Selasa, 15 Juli 2014

TAKKAN SEINDAH YANG PERTAMA

    Hujan deras menghiasi pernikahan kami. Ta’aruf yang dilakukan untuk Saling mengenal selama 3 bulan sudah cukup bagi kami untuk mengenal satu sama lain. Dengan mengucap basmallah aku terima lamaran Mas Aryo untukku dihadapan ayah dan ibu.
   Pernikahan hanya dilakukan sederhana dan mengundang saudara kolega keluarga. Mas Aryo yang seorang wirausaha memiliki banyak relasi yang diundang, sedangkan aku hanya mengingat teman lama yang diundang. Senyum ramah kami dan keluarga menyambut mereka. Rasa cinta sayang yang dimulai dari pernikahan ini akan kami pupuk bersama.
   Ijab sah itu terucap dari bibir Mas Aryo, berdebar rasanya jantung ini kala penghulu mulai menjabat tangannya. Aku hanya menunggu pada tempat yang disediakan untuk mempelai wanita. Menunggu saat membahagiakanku untuk dipinang oleh pangeran dambaan setiap wanita.
   “Sah” kata itu terlontar dari para saksi pernikahan kami, kuucapkan alhamdulillah dalam hati dan mata yang berkaca-kaca. Sumpah sehidup semati dengan ijin Allah sudah diucapkan oleh imam hidupku dihadapanku. Mas Aryo yang kupercayai sebagai pujaan hati belahan jiwaku di dunia dan semoga di akhirat kelak.
    Jantung berdebar,langkah terasa berat berjalan, saat ibuku dan mertua mengiringi langkahku menuju pangeranku, senyum manis terlihat dari bibirnya. Antara senang bercampur haru aku memagang tangannya dan mencium tangannya untuk pertama kalinya.
     Kami sah sebagai suami istri, disematkannya cincin putih yang terukir nama kami berdua, pilihan dari Mas Aryo untukku, katanya disela istirahat kami “kau cantik hari ini”. Jantungku rasanya ingin lepas dari tubuh ini, jingkrak-jingkrak penuh senyuman untuk bilang pada dunia, “sungguh kecantikanku hanya ingin ku bagi untukmu, pangeranku.”
   Setalah acara selesai, kami hanya berdua dalam kamar pengantin. Dia menyapaku dengan halus “sayang, kau lelah?” tanyanya membuat pipiku mungkin terlihat merona karena tersipu, “ndak Mas” jawabku halus. Dia membantuku melepaskan hiasan yang ada di kepalaku dengan perlahan, dia tersenyum melihatku, mungkin karena baru pertama kami berduaan seperti ini.
    Setelah mengganti pakaian, dan mandi ku tawarkan suamiku untuk makan, maklumlah sebagai pengantin baru, kami tak sempat mencicipi hidangan karena waktu yang memburu kami untuk persiapan resepsi. “ Mas, mari makan” kuajak dia dengan sambutan ramah dan sedikit guyonannya “iya aku akan makan, asal kau yang menyuapiku.” Sontak aku tertawa lirih dengan candaan manjanya itu.
     Selesai makan malam itu, kami duduk berdua di kamar, diam berdua dan akhirnya Mas Aryo memecah kesunyian dengan ajakannya “ayok, kita sholat dulu.”  Hatiku bergetar setelah solat itu terlaksana, hanya mampu berucap dalam hati “Tuhan, kau benar-benar baik denganku, memberikan imam untukku dengan banyaknya kelebihan. Sungguh aku akan mencintaiMu dengan lebih darinya.”
    Tatapan Mas Aryo yang tertuju padaku dengan penuh kasih sayang membuatku seketika luluh, diusapkannya jemari tangannya yang halus diwajahku, dengan wajahnya yang lama-lama mendekat dan keluesan belaiannya membuatku larut dalam cintanya.
     Alarm pukul 3 membangunkanku dalam dekapannya, seolah dia tak ingin melepasku, aku didekapnya hangat, kulihat matanya yang terpejam, dengan pelan kupanggil dia dengan sebutan ayah. “Ayah, bangun” kulihat badannya yang menggeliat karena kelelahan, dan membalas panggilanku “iya bunda” lalu dia mencium keningku dengan hangat, kubalas dengan senyuman.
            ***
    Mempunyai keturunan adalah dambaan setiap wanita setelah menikah. Dan aku sedang merasakannya. Hal indah dalam hidup yang menurut sebagian orang adalah penyempurna hidup seorang wanita.
      9bulan 7hari ku lewatkan manis bersama suami tercinta untuk menunggu titipanNya untuk kami. Aku melahirkan anak perempuan. Kudengar lirih suara adzan Mas Aryo untuk peri mungil kami. Senyum haru bercampur bahagia tersemat di keluarga besar kami berdua. Cucu yang diidamkan oleh ibu dan ayah Mas Aryo, juga orang tuaku.
    Tangisnya setiap malam membuat kami berdua selalu harus ekstra bersabar. Shafira Anugrah Kami, karunia terindah cinta kami berdua, dengan sabar dan penuh cinta kasih kami didik berdua,
             ***
     Setiap pagi, Mas Aryo menggangguku saat memasak di dapur, memelukku dari belakang dan mengalunkan lagu cinta yang nadanya tak karuan membuat gelak tawaku. Tak ada yang menyangka pasangan kami berdua yang dijalin tanpa sebuah kata pacaran berjalan baik-baik saja sampai sekarang. Dipupuk dengan rasa kasih sayang sedikit demi sedikit, menggemaskan memang jika kujabarkan panjang perjalanan cinta kami, hanya sedikit intinya.
    
“kusematkan cinta ini dalam hatimu dan hatiku untuk kita menjadi satu..”
      5 tahun pernikahan kami, janji manisnya diujung telpon untuk mengajakku makan malam bersama shafira yang baru saja masuk TK. Katanya “langsung saja setelah aku pulang, ku jemput bunda dan dedek untuk makan malam”. Jawabku diujung telpon “iya, aku mencintaimu, hati-hati di jalan”.
     Kulirik jam di dinding ruang tamu setelah sholat magrib, baru tadi jam 4 Mas Aryo menelponku, mengapa belum sampai sampai sekarang pikirku. Perasaan tak karuan mulai muncul, ahh mungkin ayah sedang mampir sholat di masjid pinggir jalan.
        “Bunda, kenapa Ayah lama, katanya mau ngajak shafira sama bunda makan malam??” tanya anak mungilku dengan manja
    “Mungkin Ayah sedang terjebak macet sayang” balasku meyakinkan keresahannya dan juga kekhawatiranku.
      Ku tekan tombol telpon, kucoba menghubungi suamiku dengan penuh harap dia mengangkat dan bilang baik baik saja atau apapu yang membuat hatiku lega. Tuuut...tuut... nomer yang anda tuju berada diluar jangkaun. “Ya Allah mengapa telpon suamiku tak bisa dihubungi, ada apa?” keresahan hati mulai mengusik, terbesit rasa takut teramat sangat.
     Tak lama setelah aku menelpon nomer telpon Mas Aryo, ada panggilan masuk dari handphone-nya. Alhamdulillah. Hatiku lega melihat layar handphone yang bertuliskan namanya.
      Air mata berlinang dari mataku, menandakan sesuatu terjadi. “selamat malam, kami dari pihak kepolisian, pemilik handphone ini kini sedang berada di rumah sakit, korban mengalami kecelakan lalu lintas beruntun”. Tutur kata dari polisi itu sontak membuat nafasku seolah berhenti dan mataku seolah ingin terpejam. Dan berfikir bahwa ini hanya sebuah mimpi tidurku.
      Kupeluk shafira lalu kuhubungi semua keluarga, mengabarkan kepada semua apa yang sudah terjadi. Benar, Mas Aryo menjadi korban kecelakaan lalu linta beruntun. Dia yang memakai sepeda motor tertarik 10 meter dari motornya dan helm yang dikenakannya terlepas sehingga kata dokter padaku setelah sampai di pintu masuk ruang UGD, dokter menggelengkan kepalanya dan bilang padaku, “yang tabah ya bu, ini semua takdir Tuhan, kami sudah berusaha sebaik dan semaksimal mungkin”.
       Tuhan, kau ambil nafas cintaku, Kau hempaskan tubuhku dari awan kebahagiaan. Tuhan... Aku peluk Shafira yang terus memanggil kata ayah dengan sesenggukan dan lirihnya. Orang tuaku mengayunkan tangannya dan mencoba menabahkanku.
     Kulihat jasad pangeran dambaanku untuk yang terakhir kalinya. Ku coba tegar menghadapi kenyataan bahwa ulangtahun pernikahan kami yang ke-6 harus berhadiahkan kesedihan, duka mendalam bagiku.
           
“imam kelurgaku, kau telah memandu wanita tak sempurna yaitu diriku untuk mencintai Tuhan tanpa batas. Kau penyempurna kehidupanku, wahai imamku. Kusematkan janji cinta kita berdua dalam hatiku yang paling dalam. Tak sedetikpun ingin kulalui hari tanpamu. Wahai imamku, beristirahatlah dengan tenang bersama dekapanNya. Wahai imamku, aku mencintaimu, akan terus mencintaimu walau ajal ini memisahkan kita. Wahai imamku, tunggu aku di surga bersama impian kita berdua, membangun cinta kita di surga dengan akulah bidadari spesialmu. Wahai imamku...”
   
         Aku tak dapat meneruskan ucapanku, kutahan air mata ini, kutahan sakit ini. Aku tenangkan hatiku untuk ketenangan hati Shafira juga.
***
   1 tahun kemudian, setelah meninggalnya Mas Aryo, aku hidup dengan Shafira, mengajarkan banyak hal padanya. Menjalani kesibukan sebagai single parent. “Shafira rindu ayah”. Aku mengecup kening anakku, dan menjawab “besok kita ke makam ayah ya”.
   Di makam keesokan harinya, aku berdoa akan Mas Aryo, diberikan tempat terindah disisiNya. Anakku kulihat dia banyak pertanyaan pada ayahnya. Yang kudengar agak terkejut adalah, “ayah, bagaimana bila Bunda memiliki ayah baru untu Fira??”.
    “ndukk..!!!” panggilan abi yang khas untukku. Menanyakan hal penting perihal lamaran pak sholeh untuk anaknya Rahma. Aku sedikit ragu untuk menjawabku, tak mungkin dengan mudahnya aku melupakan Mas Aryo dalam hatiku dan menerima pinangan dengan mudahnya begini.
   Tapi Fira butuh sosok ayah, dan keluargaku menginginkan ada pria yang dapat menjagaku. Dalam hati aku tak bisa menerima pinangan ini, janji sehidup matiku dengan Mas Aryo sudah tersemat dalam hatiku yang paling dalam. Tak akan ada yang bisa menggantikannya. Tapi mana bisa aku menolak ini? Jalan hidupku? Apa aku harus berlari dari kenyataan. Aku seorang janda sekarang hak pria yang baik untuk meminang janda sepertiku. Istikharah sudah kulakukan untuk jalan ini. Untuk menerima atau menolak jalan ini.
       Tak seperti awal pertama menjalani sebuah pernikahan, namun rasa tegang tampak masih terasa di hatiku. Ku lihat mata mas Rahmat berbeda dengan mata cinta pertamaku.

            
Selesai_